Sabtu, 28 April 2018

PERSENTASI MULTIMEDIA PEMBELAJARAN HASIL PENGEMBANGAN


PERSENTASI MULTIMEDIA PEMBELAJARAN HASIL PENGEMBANGAN


Kali ini saya akan menggunakan sebuah pengembangan multimedia dimana, saya merasa setiap dalam proses pembelajaran disaat mengolah informasi sering mengalami kesulitan . Kita ketehui Retrieval adalah hasil akhir dari proses memori. Mengacu pada pemanfaatan informasi yang disimpan. Agar dapat diambil kembali, informasi yang disimpan tidak hanya tersedia tetapi juga dapat diperoleh karena meskipun secara teoritis informasi yang disimpan tersedia tetapi tidak selalu mudah untuk menggunakan dan menempatkannya.
Cara saya untuk mengambil kembali informasi yang telah tersimpan, saya menggunakan multimedia berupa soal-soal latiah yang dikemas dalam aplikasi wondershare quiz creator. Saya memilih wondershare quiz creator ini karena beberapa alasan dimana dalam  pembuatan soal sangat  familiar/user  friendly,  sehingga  sangat  mudah  digunakan  dan  tidak memerlukan kemampuan bahasa pemrograman yang sulit untuk mengoperasikannya. Hasil soal, kuis dan tes dibuat/disusun  dengan perangkat lunak ini dapat disimpan  dalam format Flash yang dapat berdiri sendiri (stand alone) di website.

Dengan menggunakan wondershare quiz creator terdapat banyak fariasi dalam membuat pertanyaan antara lain yaitu :
1.      True / False dimana digunakan untuk membuat pertanyaan dengan mode menjawab benar atau salah.
2.      Multiple Choice diamana digunakan untuk membuat pertanyaan dengan jawaban pilihan ganda single (jawaban benar hanya satu)
3.      Multiple Choice diamana digunakan untuk membuat pertanyaan dengan jawaban pilihan ganda multiple answers (jawaban benar lebih dari satu)
4.      Fill In The Blank diamana digunakan untuk membuat pertanyaan dengan cara menjawab mengisi area yang kosong. Dengan alternative jawaban yang sudah di set.
5.      Macthing diamana digunakan untuk membuat pertanyaan dengan cara menjawab memasangkan dua kata/kalimat kiri dan kanan.
6.      Sequence diamana digunakan untuk membuat pertanyaan dengan cara menjawab mengurutkan jawaban dari atas kebawah
7.      Word Bank diamana digunakan untuk membuat pertanyaan dengan cara menjawab memasangkan katakata yang ada dengan kalimat pernyataan.
8.      Click Map, diamana digunakan untuk membuat pertanyaan dengan bentuk pertanyaan berupa gambar dan menjawabnya dengan cara mengklik pada area tertentu pada gambar sesuai dengan pertanyaannya.
9.      Short Essay diamana digunakan untuk membuat pertanyaan isian yang simple.

Dengan segala kelebihan aplikasi ini saya menggunakan mutimedia yang bisa membantu saya untuk memanggil informasi yang telah tersimpan serta mengasah kemampuan saya dalam menjawab pertanyaan dari berbagai jenis pertanyaannya.

Untuk melihat multimedia hasil pengembangan Saya silahkan klik link INI https://youtu.be/Tqa2eW6IF_I

PERMASALAHAN
1.      Jika anda mempunyai permaslahan dalam mengelolah informasi media atau multimedia apa yang akan kalian pilih serta jelaskan alasannya ?
2.      Jika anda diminta untuk memilih antara membuat multimedia sendiri atau menggunakan multimedia buatan orang lain untuk keperluan sendiri, apa dan jelaskan pilihan anda?
3.      Dari jenis fitur model-model pertanyaan yang dapat dibuat pada aplikasi wondershare quiz creator, manakah yang sangat membantu anda. Jelakan !


Minggu, 22 April 2018

PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA


PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

A.    Pengertian E-learning

E-learning adalah suatu sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar. Berikut beberapa pengertian E-learning dari berbagai sumber :

1.      Pembelajaran yang disusun dengan tujuan menggunakan sistem elektronik atau komputer sehingga mampu mendukung proses pembelajaran (Michael, 2013:27).

2.      Proses pembelajaran jarak jauh dengan menggabungkan prinsip-prinsip dalam proses pembelajaran dengan teknologi (Chandrawati, 2010).

3.      Sistem pembelajaran yang digunakan sebagai sarana untuk proses belajar mengajar yang dilaksanakan tanpa harus bertatap muka secara langsung antara guru dengan siswa (Ardiansyah, 2013).



B.     Karakteristik E-learning

Menurut Rosenberg (2001) karakteristik E-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi. Karakteristik E-learning menurut Nursalam (2008:135) adalah :

1.      Memanfaatkan jasa teknologi elektronik.

2.      Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan komputer networks)

3.      Menggunakan bahan ajar yang bersifat mandiri (self learning materials) kemudian disimpan di komputer, sehingga dapat diakses oleh doesen dan mahasiswa kapan saja dan dimana saja.

4.      Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar, dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.



C.     Manfaat E-learning

Manfaat E-learning adalah :

1.      Fleksibel. E-learning memberi fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses perjalanan.

2.      Belajar Mandiri. E-learning memberi kesempatan bagi pembelajar secara mandiri memegang kendali atas keberhasilan belajar.

3.      Efisiensi Biaya. E-learning memberi efisiensi biaya bagi administrasi penyelenggara, efisiensi penyediaan sarana dan fasilitas fisik untuk belajar dan efisiensi biaya bagi pembelajar adalah biaya transportasi dan akomodasi.

Manfaat E-learning menurut Pranoto, dkk (2009:309) adalah :

1.      Penggunaan E-learning untuk menunjang pelaksanaan  proses belajar dapat meningkatkan daya serap mahasiswa atas materi yang diajarkan.

2.      Meningkatkan partisipasi aktif dari mahasiswa.

3.      Meningkatkan partisipasi aktif dari mahasiswa.

4.      Meningkatkan kemampuan belajar mandiri mahasiswa.

5.      Meningkatkan kualitas materi pendidik dan pelatihan.

6.      Meningkatkan kemampuan menampilkan informasi dengan perangkat teknologi informasi, dimana dengan perangkat biasa sulit dilakukan.



D.    Kelebihan E-learning

Kelebihan E-learning  ialah memberikan fleksibilitas, interaktivitas, kecepatan, visualisasi melalui berbagai kelebihan dari masing-masing media (Sujana, 2005 : 253 ). Menurut L. Tjokro (2009:187), E-learning memiliki banyak kelebihan yaitu :

1.      Lebih mudah diserap, artinya menggunakan fasilitas multimedia berupa gambar, teks, animasi, suara, video.

2.      Jauh lebih efektif dalam biaya, artinya tidak perlu instruktur, tidak perlu minimum audiensi, bisa dimana saja, bisa kapan saja, murah untuk diperbanyak.

3.      Jauh lebih ringkas, artinya tidak banyak formalitas kelas, langsung pada pokok bahasan, mata pelajaran sesuai kebutuhan.

4.      Tersedia 24 jam/hari – 7 hari/minggu, artinya penguaasaan materi tergantung pada semangat dan daya serap siswa, bisa dimonitor, bisa diuji dengan e-test.



E.     Kekurangan E-learning

Kekurangan E-learning menurut L. Gavrilova (2006:354) adalah pembelajaran dengan model E-learning membutuhkan peralatan tambahan yang lebih (seperti komputer, monitor, keyboard, dsb). Kekurangan E-learning yang diuraikan oleh Nursalam (2008:140) sebagai berikut :

1.      Kurangnya interaksi antara pengajar dan pelajar atau bahkan antar pelajar itu sendiri.

2.      Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya membuat tumbuhnya aspek bisnis/komersial.

3.      Proses belajar mengajar cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan.

4.      Berubahnya peran pengajar dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT (information, communication, dan technology).

5.      Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet ( mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, ataupun komputer).

6.      Kurangnya sumber daya manusia yang menguasai internet.

7.      Kurangnya penguasaan bahasa komputer.

8.      Akses pada komputer yang tidak memadai dapat menjadi masalah tersendiri bagi peserta didik.

9.      Peserta didik bisa frustasi jika mereka tidak bisa mengakses grafik, gambar, dan video karena peralatan yang tidak memadai.

10.  Tersedianya infrastruktur yang tidak bisa dipenuhi.

11.  Informasi dapat bervariasi dalam kualitas dan akurasi sehingga penduan dan fitur pertanyaan diperlukan.

12.  Peserta didik dapat merasa terisolasi



F.      Aplikasi E-Learning Pada Pembelajaran Kimia

Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian pengembangan bahan ajar kimia anorganik berbasis e-learningadalah model 4-D (four-D models) yang dikembangkan oleh Thiagarajan (1974). Model 4-D terdiri dari 4 tahap yaitu ; define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate(penyebaran). Alasan digunakannya model pengembangan 4-D ini telah mencakup keseluruhan hal yang berkaitan dengan pengembangan produk bahan ajar berbasis e-learning ini. Penelitian yang dilakukan hanya terbatas pada tahap develop (pengembangan), sehingga tahap disseminate tidak dilakukan karena penelitian ini hanya melakukan uji validitas produk pengembangan.



1.      Tahap Pendefinisian (Define)

Tahap pendefinisian (define) dilakukan untuk menetapkan dan mendefinisikan syarat-syarat pembelajaran. Adapun tahap ini terdiri dari empat langkah, yaitu (1) analisis ujung depan, (2) analisis materi, (3) analisis mahasiswa, dan (4) perumusan tujuan pembelajaran.

2.      Tahap Perancangan (Design)

Pada tahap ini dilakukan perancangan bahan ajar kimia anorganik berbasis e-learning yang berbentuk website dengan menggunakan aplikasi under web Joomla dan Moodle. Adapun langkah-langkah pada tahap ini adalah (1) pembuatan brainstorming diagram, (2) pembuatan story board, dan (3) pemrograman

3.      Tahap ngembangan (Develop)

Tahap pengembangan dilakukan dengan menyempurnakan media e-learning yang telah dibuat supaya lebih baik melalui revisi berdasarkan uji kelayakan dan saran-saran para tim ahli. Tahan ini meliputi validasi desain, validasi isi, dan revisi media.

4.      Uji Validitas Produk

Desain uji validasi produk penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data mengunakan teknik pengumpulan data angket. Angket uji kelayakan media terdiri dari dua jenis angket, yaitu angket uji validitas media dari segi materi pembelajaran dan tampilan media pembelajaran. Uji validasitas media dilakukan oleh ahli media dan ahli materi masing-masing 1 orang. Jenis data yang diperoleh ada dua data, yaitu kuantitatif skala interval dan kualitatif. Data kuantitatif skala interval diperoleh dari hasil penilaian angket yang menggunakan skala Likert.



Bahan ajar yang dihasilkan berupa media e-learning dengan menggabungkan aplikasi Content Management System (CMS) yang berupa Joomla dan Learning Management System (LMS) berupa Moodle. Media ini berbasis web yang bisa diakses melalui alamat http://anorganik.kimia.or.id pada komputer atau notebook yang terhubung ke jaringan internet. Hasil pengembangan ini merupakan bentuk visualisasi dari materi-materi kimia anorganik yang diajarkan pada mahasiswa jurusan kimia Universitas Negeri Malang. Media e-learning ini disertai petunjuk penggunaan bagi pengajar dan mahasiswa dalam bentuk ebook berformat PDF yang dapat di download pada halaman muka (home page) media e-leaning.Selain produk yang berupa website online juga disertakan versi offline yang dikemas dalam Compact Disk (CD) yang di dalamnya berisi konten media pembelajaran e-leaning yang dikembangkan. CD ini bisa digunakan jika tidak terdapat koneksi internet dan juga sebagai backup dari versi online.


G.    Permasalahan

1.      Kita ketahui salah satu kekurangan dari e-learning memiliki kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek social. Bagaimana cara kita menyusun pembelajaran e-learning agar terhidar dari hal tersebut ?

2.      Pada pengaplikasian e-learning kita menggunakan multimedia pembelajaran, hal apa yang menetukan bahwa media tersebut sesuai dengan matei ajarnya ?

3.      Diketahui e-learning merupakan sistem pembelajaran yang digunakan sebagai sarana untuk proses belajar mengajar yang dilaksanakan tanpa harus bertatap muka secara langsung antara guru dengan siswa. Bagaimana cara guru mengevaluasi tingkat pemahaman sisiwa pada proses e-learning ini berlangsung ?



H.    Sumber

Asadullah, G.M. dkk. 2011. Pengembangan Bahan Ajar Kimia Anorganik Berbasis E-Learning. Jurusan FMIPA Kimia : Universitas Negri Malang http://jurnal-online.um.ac.id/data/artikel/artikel63138198D135CC25FA660C971BD48367.pdf





Jumat, 20 April 2018

TEORI PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA


TEORI PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA

Robert. M Gagne dan Richard Chatham Atkinson

1.      Pendahuluan

Berpikir adalah salah satu kemampuan yang harus diajarkan oleh guru kepada siswa. Banyak sekali aktivitas atau profesi manusia yang tergantung pada kemampuan yang satu ini. Berpikir hanya dapat dilakukan oleh manusia, tidak oleh makhluk lain. Tidak heran jika kemampuan berpikir disebut sebagai kemampuan yang membuat kita menjadi manusia. Sejak dulu manusia begitu tertarik untuk mempelajari dirinya sendiri. Salah satunya adalah bagaimana sebenarnya proses berpikir itu terjadi. Manfaat bagi guru ketika memahami proses berpikir pada manusia, ia dapat memaksimalkan pengajaran untuk para siswanya.

Belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku seseorang dalam situasi tertentu yang disebabkan oleh “pengalaman berulang” terhadap situasi tersebut. Dalam tinjauan psikologi kognitif belajar diartikan sebagai The process of acquiring knowledge (proses memperoleh pengetahuan). Pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman hidup yang dialami oleh si pelajar agar menjadi mandiri. Belajar erat kaitannya dengan pengembangan kognitif (penguasaan intelektual), afektif (berhubungan dengan sikap dan nilai) dan psikomotorik (keterampilan bertindak atau berprilaku). Dalam pandangan pakar psikologi belajar kognitifis, keberhasilan belajar di ukur oleh kematangan kognisi si pelajar, dalam hal ini otak sebagai organ tubuh yang berkaitan dengan intelejensi, menjadi sangat dominan sebagai pusat memori.



2.      Teori Pemrosesan Informasi dalam Pembelajaran

Model pembelajaran pemrosesan informasi adalah model pembelajaran yang menitikberatkan pada aktivitas yang terkait dengan kegiatan proses atau pengolahan informasi untuk meningkatkan kapabilitas siswa melalui proses pembelajaran. Model ini lebih memfokuskan pada fungsi kognitif peserta didik. Model ini berdasarkan teori belajar kognitif sehingga model tersebut berorientasi pada kemampaun siswa memproses informasi dan  sistem yang dapat memperbaiki kemampuan tersebut. Pemrosesan informasi  menunjuk kepada cara mengumpulkan/menerima stimuli dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep-konsep, dan pemecahan masalah, serta menggunakan symbol-simbol verbal dan non verbal. Model ini berkenaan dengan kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan berpikir produktif, serta berkenaan dengan kemampuan intelektual umum (general intellectual ability).

Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar namun yang lebih penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.



a.       Teori Pemrosesan Informasi Menurut Robert M. Gagne

Berdasarkan kondisi internal dan eksternal, Gagne menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi. Model proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan informasi, yaitu sebagai berikut :

1)      Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan diproses sebagai informasi.

2)      Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.

3)      Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan.

Seperangkat proses yang bersifat internal yang dimaksud oleh Gagne adalah kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan terjadinya proses kognitif dalam diri individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

Proses informasi dalam ingatan dimulai dari proses penyandian informasi (encoding), diikuti dengan penyimpanan informasi (stroge) dan diakhiri dengan mengungkapkan kembali informas-informasi yang telah disimpan dalam ingatan (retrival). Teori belajar pemerosesan informasi mendeskripsikan tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan.

Encoding adalah proses memasukkan informasi ke dalam memori. Sistem syaraf menggunakan kode internal yang merepresentasikan stimulus eksternal. Dengan cara ini representasi objek/kejadian eksternal dikodekan menjadi informasi internal dan siap disimpan.

Stroge adalah informasi yang diambilkan dari memori jangka pendek kemudian diteruskan untuk diproses dan digabungkan ke dalam memori jangka panjang. Namun tidak semua informasi dari memori jangka pendek dapat disimpan. Kunci penting dalam penyimpanan di memori jangka panjang adalah adanya motivasi yang cukup untuk mendorong adanya latihan berulang hal-hal dari memori jangka pendek.

Retrieval adalah hasil akhir dari proses memori. Mengacu pada pemanfaatan informasi yang disimpan. Agar dapat diambil kembali, informasi yang disimpan tidak hanya tersedia tetapi juga dapat diperoleh karena meskipun secara teoritis informasi yang disimpan tersedia tetapi tidak selalu mudah untuk menggunakan dan menempatkannya.

Teori ini ditemukan oleh Gagne yang didasarkan atas hasil riset tentang faktor-faktor yang kompleks pada proses belajar manusia. Penelitiannya diamksudkan untuk menemukan teori pembelajaran yang efektif. Analisanya dimulai dari identifikasi konsep hirarki belajar, yaitu urut-urutan kemampuan yang harus dikuasai oleh pembelajar (peserta didik) agar dapat mempelajari hal-hal yang lebih sulit atau lebih kompleks.



b.      Teori Pemrosesan Informasi Menurut Atkinson dan Shiffrin


Proses Informasi pada Manusia merupakan teori bagaimana manusia menerima, menyimpan, mengintegrasikan, mengambil dan menggunakan informasi. Sejak penemuan pertama komputer, psikolog telah menggambarkan secara pararel hubungan antara komputer dan pikiran manusia, berbasis pemodelan memori (ingatan). Pemodelan yang mendominasi pada era 1970an dan 1980an adalah 3 komponen sistem pemrosesan informasi oleh Atkinson dan Shiffrin tahun 1968 yang terinpirasi oleh arsitektur perangkat keras komputer. Model pemrosesan informasi menurut Atkinson dan Shiffrin ini mendasarkan pada konsep memori dengan tiga bentuk simpanannya yaitu :

1)      Sensory Memory (SM)

Informasi masuk ke dalam sistem pengolah informasi manusia melalui berbagai saluran sesuai dengan inderanya. Sistem persepsi bekerja pada informasi ini untuk menciptakan apa yang kita pahami sebagai persepsi. Karena keterbatasan kemampuan dan banyaknya informasi yang masuk, tidak semua informasi bisa diolah. Informasi yang baru saja diterima ini disimpan dalam suatu ruang sementara (buffer) yang disebut sensory memory. Durasi suatu informasi dapat tersimpan di dalam sensory memory ini sangat singkat, kurang dari 1/2 sekon untuk informasi visual dan sekitar 3 sekon untuk informasi audio. Tahap pemrosesan informasi tahap pertama ini sangat penting karena menjadi syarat untuk dapat melakukan pemrosesan informasi di tahap berikutnya, sehingga perhatian pembelajar terhadap informasi yang baru diterimanya ini menjadi sangat diperlukan. Pembelajar akan memberikan perhatian yang lebih terhadap informasi jika informasi tersebut memiliki fitur atau ciri khas yang menarik dan jika informasi tersebut mampu mengaktifkan pola pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge).

2)      Short-term Memory (STM) atau \"Working Memory\"

Short-term memory atau working memory berhubungan dengan apa yang sedang dipikirkan seseorang pada suatu saat ketika menerima stimulus dari lingkungan. Durasi suatu informasi tersimpan di dalam short-term memory adalah 15 – 20 sekon. Durasi penyimpanan di dalam short-term memory ini akan bertambah lama, bisa menjadi sampai 20 menit, jika terdapat pengulangan informasi. Informasi yang masuk ke dalam short-term memory berangsur-angsur menghilang ketika informasi tersebut tidak lagi diperlukan. Jika informasi dalam short-term memory ini terus digunakan, maka lama-kelamaan informasi tersebut akan masuk ke dalam tahapan penyimpanan informasi berikutnya, yaitu long-term memory.

3)      Long-term Memory (LTM)

Long-term memory merupakan memory penyimpanan yang relatif permanen, yang dapat menyimpan informasi meskipun informasi tersebut mungkin tidak diperlukan lagi. Informasi yang tersimpan di dalam long-term memory diorganisir ke dalam bentuk struktur pengetahuan tertentu, atau yang disebut dengan schema. Schema mengelompokkan elemen-elemen informasi sesuai dengan bagaimana nantinya informasi tersebut akan digunakan, sehingga schema memfasilitasi akses informasi di waktu mendatang ketika akan digunakan (proses memanggil kembali informasi). Dengan demikian, keahlian seseorang berasal dari pengetahuan yang tersimpan dalam bentuk schema di dalam long-term memory, bukan dari kemampuannya untuk melibatkan diri dengan elemen-elemen informasi yang belum terorganisasi di dalam long-term memory (Merrienboer dan Sweller, 2005).

Penyimpanan informasi dalam long-term memory dapat diumpamakan seperti peristiwa yang terjadi pada penulisan data ke dalam disket atau hardisk komputer atau pun perekaman suara ke dalam kaset. Kapasitas penyimpanan dalam long-term memory ini dapat dikatakan tak terbatas besarnya dengan durasi penyimpanan seumur hidup. Kapasitas penyimpanan disebut tak terbatas dalam arti bahwa tidak ada seseorang pun yang pernah kekurangan “ruang” untuk menyimpan informasi baru, berapa pun umur orang tersebut. Durasi penyimpanan seumur hidup diartikan sebagai informasi yang sudah masuk di dalam long-term memory tidak akan pernah hilang, meskipun bisa saja terjadi informasi tersebut tidak berhasil diambil kembali (retrieval) karena beberapa alasan.

3.      Permasalahan

1.      Pemrosesan informasi  menunjuk kepada cara mengumpulkan/menerima stimuli dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep-konsep, dan pemecahan masalah, serta menggunakan symbol-simbol verbal dan non verbal. Symbol-simbol seperti apa yang dimaksud. Jelaskan !

2.      Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah pengolahan informasi. Dari penjelasan diatas jelaskanlah seberapa penting sisitem informasi dalam proses pembelajaran !

3.      Kita ketahui bahwa durasi suatu informasi dapat tersimpan di dalam sensory memory ini sangat singkat, kurang dari 1/2 sekon untuk informasi visual dan sekitar 3 sekon untuk informasi audio sedangkan tahap pemrosesan informasi sensory memory ini sangat penting karena menjadi syarat untuk dapat melakukan pemrosesan informasi di tahap berikutnya, menurut anda bagaimanakah kita mengatasi jika kita gagal menggunakan durasi tersebut dalam mengikuti proses pembelajaran ?




MULTIMEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

MULTIMEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 Perubahan dunia kini tengah memasuki era revolusi industri 4.0 atau ...